Anak Buruh Tani Kuliah Tinggi
Oleh: Zainul Hadi, SE
Oleh: Zainul Hadi, SE
Bagi saya adalah berguna untuk orang banyak baik dalam segi agama maupun bangsa. Maka kesuksesan terbesar dalam hidup saya adalah ketika saya berguna bagi orang-orang yang ada di sekitar. saya ingin hidup dalam kehidupan dan hidup dalam kematian.
Saya
berasal dari kampung yang sebagian besar pekerjaan masyarakatnya adalah
sebagai buruh Bangunan, buruh pembuatan Batu Bata, TKI, dan Petani.
Sepintas tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu. Akan tetapi menjadi
masalah bagi saya ketika mendengar, melihat, bahkan merasakan sendiri
ketika ada anak sekolahan yang bercita-cita menjadi buruh tani, dimana
kita ketahui bahwa pendapatan yang didapatkan oleh buruh tani masih
dibawah rata-rata, sehingga perlu untuk mengali ilmu lebih banyak lagi
agar nanti menjadi orang yang berguna bagai bangsa dan agama.
Saya bingung harus memulai dari mana untuk mengatasi hal tersebut. Tetapi setelah mendengar banyak masukan, akhirnya satu hal yang saya yakini adalah ketika saya bisa berprestasi di kampus maka akan ada sebuah harapan baru bagi mereka untuk berani bermimpi menempuh pendidikan tinggi.
Perlahan
tapi pasti, saya berusaha berprestasi di kampus. Saya mendapatkan
Indeks Prestasi yang cukup membanggakan setiap semester. Saya juga
mendapatkan beasiswa Bidik Misi dari semester 1 sampi dengan semester 8.
Saya menjadi pengurus inti organisasi, salah satunya Co Sumber Daya
Insani Forum Kajian Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi UNRAM . Saya meraih
penghargaan sebagai salah satu Mahasiswa lulusan terbaik di kampus.
Semua hal tersebut saya dedikasikan kepada anak-anak kampung saya. Saya
ingin membuktikan bahwa orang kampung, anak seorang buruh tani bisa
berprestasi di luar sana.
Saya juga aktif untuk berkomunikasi dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan SD, SMP, SMP bahkan yang berada di perguruan tinggi. Mereka cukup aktif di organisasi remaja musolla. Melalui wadah itu, saya mencoba menularkan semangat untuk kuliah. Saya berusaha memotivasi mereka untuk jangan berhenti sampai SMA. Memberikan perbandingan pemuda yang kuliah dengan pemuda yang lebih memilih menjadi buruh tani . Saya juga sering memberikan perbandingan antara orang yang lebih banyak ilmunya dari pada orang yang tidak berilmu. Karena ratata-rata di desa saya masyarkat yang disana masih pendidikannya sampi SD dan bahkan ada yang putus sekolah, masih tidak ada yang serjana mapun kuliah tinggi. Sehingga mereka berharap bahwa saya akan merubah kondisi dari mereka yang dimana dulunya tidak ada yang sekolah tinggi maka dengan melihat saya sebagai anak seorang buruh tani mampu sekolah tinggi dan menggapai cita-citannya. Dengan demikian maka mereka akan lebih yakin kalu bukan anak orang yang mampu saja bisa kuliah tinggi, tetapi orang yang tidak mampu juga bisa kuliah tinggi seperti saya.
Sulit mengubah mindset anak-anak di kampung saya. Hal tersebut disebabkan pergaulan mereka yang terlalu bebas. Mereka beranggapan bahwa dengan ber sekolah tinggi hanya menghabiskan biaya, sedangkan untuk memperoleh pekerjaan sangatlah sulit. Oleh karena itu saya menyemangati mereka dengan kalimat yang berbunyi “Dengan ilmu maka hidup akan menjadi lebih mudah, dengan agama maka hidup akan menjadi lebih terarah dan dengan seni maka hidup akan menjadi lebih indah”.
Akan
tetapi, tiga anak berkeinginan kuat untuk kuliah dan Alhamdulillah
ketiganya lulus masuk perguruan tinggi 1). Zahratul hafni, sekarang
sedang semester 4 jurusan Diploma 3 Akuntansi Universitas Mataram.
Ayhnya menjadi seorang sopir dan ibunya hanya bekrja sebagai ibu rumah
tangga; 2) Hudatullah, sekarang semester 2 jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Gunung Rinjai. Kedua orang tuanya bercerai sejak dia
berumur 7 tahun dan sekarang ibunya menjadi TKI di malaysia. Keluhannya
setiap ketemu dengan saya adalah sulitnya mendapatkan biaya kuliah ; 3)
Hamzanwadi, mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Gunung Rinjadi. Bapaknya sudah meninggal dunia dan ibunya sekarang hanya
menjadi buruh batu bata.
Mungkin terlalu berlebihan jika saya mengakui bahwa kalian bisa kuliah dengan bantuan motivasi dan tenaga saya. Akan tetapi, saya merasa bangga dan bahagia ketika melihat mereka bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Kita satu kampung, satu nasib, kita sama-sama susah tetapi masa depan kita terlalu indah dibandingkan harus menjadi buruh tani atau menikah dini.
Mungkin terlalu berlebihan jika saya mengakui bahwa kalian bisa kuliah dengan bantuan motivasi dan tenaga saya. Akan tetapi, saya merasa bangga dan bahagia ketika melihat mereka bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Kita satu kampung, satu nasib, kita sama-sama susah tetapi masa depan kita terlalu indah dibandingkan harus menjadi buruh tani atau menikah dini.
Itulah kesuksesan terbesar saya sampai saat ini. Saya berazam untuk bisa memberikan solusi dalam skala besar. Saya ingin membuktikan bahwa anak seorang buruh tani bisa kuliah tinggi dan bisa bermanfaat bagi orang banyak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar