Kamis, 30 Maret 2017

Anak Buruh Tani Kuliah Tinggi
Oleh: Zainul Hadi, SE

Bagi  saya adalah berguna untuk orang banyak baik dalam segi agama maupun bangsa. Maka kesuksesan terbesar dalam hidup saya adalah ketika saya berguna bagi orang-orang yang ada di sekitar. saya ingin hidup dalam kehidupan dan hidup dalam kematian.
Saya berasal dari kampung yang sebagian besar pekerjaan masyarakatnya adalah sebagai buruh Bangunan, buruh pembuatan Batu Bata, TKI, dan Petani. Sepintas tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu. Akan tetapi menjadi masalah bagi saya ketika mendengar, melihat, bahkan merasakan sendiri ketika ada anak sekolahan yang bercita-cita menjadi buruh tani, dimana kita ketahui bahwa pendapatan yang didapatkan oleh buruh tani masih dibawah rata-rata, sehingga perlu untuk mengali ilmu lebih banyak lagi agar nanti menjadi orang yang berguna bagai bangsa dan agama.

Saya bingung harus memulai dari mana untuk mengatasi hal tersebut. Tetapi setelah mendengar banyak masukan, akhirnya satu hal yang saya yakini adalah ketika saya bisa berprestasi di kampus maka akan ada sebuah harapan baru bagi mereka untuk berani bermimpi menempuh pendidikan tinggi.
Perlahan tapi pasti, saya berusaha berprestasi di kampus. Saya mendapatkan Indeks Prestasi yang cukup membanggakan setiap semester. Saya juga mendapatkan beasiswa Bidik Misi dari semester 1 sampi dengan semester 8. Saya menjadi pengurus inti organisasi, salah satunya Co Sumber Daya Insani Forum Kajian Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi UNRAM . Saya meraih penghargaan sebagai salah satu Mahasiswa lulusan terbaik di kampus. Semua hal tersebut saya dedikasikan kepada anak-anak kampung saya. Saya ingin membuktikan bahwa orang kampung, anak seorang buruh tani bisa berprestasi di luar sana.

Saya juga aktif untuk berkomunikasi dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan SD, SMP, SMP bahkan yang berada di perguruan tinggi. Mereka cukup aktif di organisasi remaja musolla. Melalui wadah itu, saya mencoba menularkan semangat untuk kuliah. Saya berusaha memotivasi mereka untuk jangan berhenti sampai SMA. Memberikan perbandingan pemuda yang kuliah dengan pemuda yang lebih memilih menjadi buruh tani . Saya juga sering memberikan perbandingan antara orang yang lebih banyak ilmunya dari pada orang yang tidak berilmu. Karena ratata-rata di desa saya masyarkat yang disana masih pendidikannya sampi SD dan bahkan ada yang putus sekolah, masih tidak ada yang serjana mapun kuliah tinggi.  Sehingga mereka berharap bahwa saya akan merubah kondisi dari mereka yang dimana dulunya tidak ada yang sekolah tinggi maka dengan melihat saya sebagai anak seorang buruh tani mampu sekolah tinggi dan menggapai cita-citannya. Dengan demikian maka mereka akan lebih yakin kalu bukan anak orang yang mampu saja bisa kuliah tinggi, tetapi orang yang tidak mampu juga bisa kuliah tinggi seperti saya.

Sulit mengubah mindset anak-anak di kampung saya. Hal tersebut disebabkan pergaulan mereka yang terlalu bebas. Mereka beranggapan bahwa dengan ber sekolah tinggi hanya menghabiskan biaya, sedangkan untuk memperoleh pekerjaan sangatlah sulit. Oleh karena itu saya menyemangati mereka dengan kalimat yang berbunyi “Dengan ilmu maka hidup akan menjadi lebih mudah, dengan agama maka hidup akan menjadi lebih terarah dan dengan seni maka hidup akan menjadi lebih indah”.
Akan tetapi, tiga anak berkeinginan kuat untuk kuliah dan Alhamdulillah ketiganya lulus masuk perguruan tinggi 1). Zahratul hafni, sekarang sedang semester 4 jurusan Diploma 3 Akuntansi Universitas Mataram. Ayhnya menjadi seorang sopir dan ibunya hanya bekrja sebagai ibu rumah tangga; 2) Hudatullah, sekarang semester 2 jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gunung Rinjai. Kedua orang tuanya bercerai sejak dia berumur 7 tahun dan sekarang ibunya menjadi TKI di malaysia. Keluhannya setiap ketemu dengan saya adalah sulitnya mendapatkan biaya kuliah ; 3) Hamzanwadi, mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gunung Rinjadi. Bapaknya sudah meninggal dunia dan ibunya sekarang hanya menjadi buruh batu bata.
Mungkin terlalu berlebihan jika saya mengakui bahwa kalian bisa kuliah dengan bantuan motivasi dan tenaga saya. Akan tetapi, saya merasa bangga dan bahagia ketika melihat mereka bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Kita satu kampung, satu nasib, kita sama-sama susah tetapi masa depan kita terlalu indah dibandingkan harus menjadi buruh tani atau menikah dini.

Itulah kesuksesan terbesar saya sampai saat ini. Saya berazam untuk bisa memberikan solusi dalam skala besar. Saya ingin membuktikan bahwa anak seorang buruh tani bisa kuliah tinggi dan bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar